Pohon dan Kita

Ditanam oleh mbilung

Tanyakanlah pada orang-orang yang anda jumpai, apa arti pohon untuk mereka? Maka jawaban yang keluar adalah manfaatnya. Dari mulai sebagai tempat berteduh di siang yang panas, kayunya dijadikan meja jika pohonnya sudah besar (dan ditebang), hingga tempat kencing pada saat terdesak. Setiap kepala punya jawabannya sendiri-sendiri. Lantas, bagimana dengan penghuni alam lainnya? Ada yang menjadikannya sebagai rumah, bahkan ada yang menjadikannya sebagai sumber makanan. Intinya, semua bicara manfaat.

Pada saat saya masih duduk di bangku sekolah, Bapak dan Ibu guru kerap bercerita tentang manfaat pohon sebagai penghasil udara bersih, pencegah erosi, penghadang banjir, hingga sebagai penjaga agar air tidak lenyap di saat musim kering melanda. Lantas di bangku kuliah, manfaat yang sama kembali disampaikan dengan tambahan seperti sebagai sumber obat-obatan, pangan dan bahan baku industri. Jika begitu banyak manfaat yang diperoleh dari pohon, mengapa pula kita kerap mendengar betapa pohon lantas ditebangi secara membabi buta?

Bagaimanapun pohon membutuhkan ruang untuk tumbuh sementara bagi manusia, ruang adalah komoditas. Selain itu, dunia modern juga menuntut ketersediaan pohon bernilai ekonomi tinggi lebih banyak dibanding apa yang bisa disediakan oleh alam. Akibatnya, pohon yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomi harus disingkirkan untuk digantikan dengan pohon-pohon “penghasil uang” yang manfaatnya dalam jangka panjang tidak sebesar pohon yang digantikannya. Hasilnya, ada jutaan hektar perkebunan kelapa sawit serta perkebunan kayu untuk kertas.

Dalam skala yang lebih kecil perebutan ruang begini dapat dilihat dari banyaknya pohon peneduh jalan yang dibabat agar ada ruang bagi pelebaran jalan. Pohon peneduh toh tidak diperlukan, karena pengguna mobil dapat menggunakan penyejuk udara di dalamnya. Untuk yang berjalan kaki bagaimana? Ah…mereka bisa pakai payung. Lantas, bagaimana dengan udara segar? Silahkan nyengir …

Sebenarnya menanam pohon itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan menebang pohon. Jika ada yang sulit dari menanam, maka sumbernya adalah kemalasan, termasuk malas memelihara yang sudah ditanam. Sudah menjadi pengetahuan umum jika manusia lebih banyak menebang pohon dibanding menanam pohon. Sementara manfaat yang hendak diminta dari pohon makin hari makin meningkat. Amat sangat adil rasanya jika kemalasan menanam pohon itu dibuang. Maka tanamlah pohon. Anda menanam satu pohon itu sangat berharga, anda menanam banyak pohon seisi dunia akan tersenyum.

Halo dunia!

Ditanam oleh aku dan pohonku

Selamat datang pohon!